Menurut Muslich (2007) dan Sanjaya (2006), pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu:
1. Konstruktivisme (constructivisme)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis pendekatan CTL. Pembelajaran konstruktivisme menekankan pada terbangunnya pemahaman siswa secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan pengalaman belajar yang bermakna. Belajar bermakna akan membiasakan siswa untuk memecahkan masalah sendiri, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
2. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak berasal dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Kegiatan menemukan diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa.
Secara umum proses menemukan dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:
a. Merumuskan masalah.
b. Mengajukan hipotesis.
c. Mengumpulkan data.
d. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.
e. Membuat kesimpulan.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang dari refleksi keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya. Belajar pada pembelajaran CTL merupakan upaya guru untuk mendorong siswa mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa memperoleh informasi, membimbing siswa menemukan materi yang dipelajarinya, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk:
a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.
b. Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.
c. Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
d. Memfokuskan siswa pada sesuatu yang dinginkan.
e. Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4. Masyarakat Belajar ( Learning Community)
Menurut Vygotsky dalam Sanjaya (2006), bahwa pengetahuan dan pemahaman siswa banyak dipengaruhi oleh komunikasi dengan orang lain. Konsep masyarakat belajar ( Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.
5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan merupakan proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat. Dalam pendekatan kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misalnya, siswa dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan, memberi contoh kepada temannya bagaimana cara melafalkan sesuatu dan sebagainya.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimilikinya.
7. Penilaian Nyata (Autentic assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian nyata dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, penekanannya diarahkan pada proses belajar bukan hanya pada hasil belajar.







